
Pendahuluan
Pemberian Tunjangan Profesi Guru (TPG) melalui program sertifikasi merupakan salah satu upaya negara dalam meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru. Di sisi lain, Indonesia saat ini tengah mendorong transformasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada murid, diferensiasi, dan pembelajaran mendalam (deep learning). Dalam konteks ini, guru bersertifikat diharapkan tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi aktor utama perubahan pembelajaran di kelas.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa keterkaitan antara tunjangan sertifikasi, peningkatan kompetensi guru, dan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya berjalan optimal.
Tunjangan Sertifikasi sebagai Modal Implementasi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka menuntut guru memiliki kompetensi pedagogik yang lebih kompleks, seperti kemampuan merancang Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), modul ajar, serta asesmen diagnostik dan formatif. Dalam konteks ini, tunjangan sertifikasi seharusnya menjadi modal profesional bagi guru untuk:
-
Mengembangkan perangkat ajar yang kontekstual dan fleksibel.
-
Mengikuti pelatihan mandiri dan komunitas belajar guru.
-
Mengakses sumber belajar digital dan teknologi pembelajaran.
Bagi sebagian guru, terutama yang aktif belajar, TPG benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung kesiapan mengajar sesuai prinsip Kurikulum Merdeka.
Realita Implementasi: Sertifikasi dan Tantangan Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran mendalam dalam Kurikulum Merdeka menekankan pada proses belajar yang:
-
Bermakna dan kontekstual
-
Mengembangkan nalar kritis, kreativitas, dan karakter
-
Tidak sekadar mengejar ketuntasan konten
Namun, di lapangan masih ditemukan guru bersertifikat yang menjalankan Kurikulum Merdeka secara administratif, seperti sekadar mengganti format RPP menjadi modul ajar tanpa perubahan signifikan pada praktik pembelajaran. Hal ini berdampak pada:
-
Pembelajaran yang masih berorientasi hafalan
-
Minimnya dialog, eksplorasi, dan refleksi murid
-
Pembelajaran mendalam belum terwujud secara utuh
Kondisi ini menunjukkan bahwa sertifikasi guru belum otomatis melahirkan praktik pembelajaran mendalam, apabila tidak diiringi perubahan paradigma mengajar.
Dampak terhadap Kualitas Pembelajaran dan Murid
Pada sekolah yang mampu mengintegrasikan sertifikasi guru dengan semangat Kurikulum Merdeka, terlihat dampak positif berupa:
-
Murid lebih aktif, percaya diri, dan berani berpendapat
-
Pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan murid
-
Meningkatnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah
Sebaliknya, pada sekolah yang belum memiliki budaya refleksi dan supervisi akademik yang kuat, dampak tunjangan sertifikasi terhadap kualitas pembelajaran murid masih rendah. Murid belum sepenuhnya mengalami pembelajaran mendalam yang membangun pemahaman konseptual dan karakter.
Peran Guru Bersertifikat dalam Pembelajaran Mendalam
Guru bersertifikat seharusnya menjadi role model pembelajaran mendalam, antara lain dengan:
-
Merancang pembelajaran berbasis masalah dan projek.
-
Mendorong murid bertanya, berdiskusi, dan berefleksi.
-
Menggunakan asesmen sebagai alat belajar, bukan sekadar penilaian akhir.
-
Mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata murid.
Dalam Kurikulum Merdeka, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator belajar yang memerdekakan potensi murid.
Sinkronisasi Sertifikasi, Kinerja, dan Pembelajaran Mendalam
Agar tunjangan sertifikasi benar-benar berdampak pada kualitas pendidikan, diperlukan sinkronisasi kebijakan, antara lain:
-
Penguatan evaluasi kinerja guru berbasis praktik pembelajaran nyata.
-
Supervisi akademik yang menekankan kualitas pembelajaran, bukan hanya kelengkapan administrasi.
-
Penguatan komunitas belajar guru untuk berbagi praktik baik pembelajaran mendalam.
Dengan pendekatan ini, sertifikasi guru tidak hanya menjadi hak finansial, tetapi juga amanah profesional dalam mewujudkan pembelajaran bermutu.
Penutup
Dalam konteks Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam, tunjangan sertifikasi guru memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran murid. Namun, realita menunjukkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya terwujud secara merata. Sertifikasi harus diposisikan sebagai instrumen transformasi pembelajaran, bukan sekadar pemenuhan administratif dan kesejahteraan.
Ketika guru bersertifikat mampu menginternalisasi semangat Kurikulum Merdeka dan menerapkan pembelajaran mendalam secara konsisten, maka tujuan utama pendidikan—yakni tumbuhnya murid yang berpikir kritis, berkarakter, dan merdeka belajar—akan lebih mudah tercapai.


